Pada masa Dinasti Umayyah,
terdapat cikal bakal gerakan-gerakan filosofis keagamaan yang berusaha
menggoyahkan fondasi Islam. Hal ini ditandai pada paruh pertama abad ke-8, di
Bashrah hidup seorang tokoh terkenal bernama Washil bin ‘Atha (wafat tahun
748-M), seorang pendiri mazhab rasionalisme kondang yang disebut Mu’tazilah.
Orang Mu’tazilah memperoleh sebutan itu, karena mendakwahkan ajaran bahwa siapa
pun yang melakukan dosa besar dianggap telah keluar dari barisan orang beriman,
tapi tidak menjadikannya kafir. Dalam hal ini, orang semacam itu berada dalam
kondisi pertengahan antara kedua status itu. Washil pernah belajar kepada Hasan
al-Bashri, yang cenderung pada doktrin kebebasan berkehendak (free
will), yang kemudian menjadi doktrin utama dalam sistem keyakinan
orang Mu’tazilah. Doktrin tersebut pada saat itu dianut oleh kelompok Qadariyah
(free
will), yang dibedakan dari kelompok Jabariyah (fatalism).
Orang Qadariyah merepresentasikan penentangan terhadap konsep takdir yang ketat
dalam Islam, kekuasaan Tuhan yang sangat ditekankan dalam Al-Qur’an,dan
pengaruh Yunani Kristen.
Di samping itu, tumbuhnya gagasan dan pemikiran filosofis Arab
pada waktu itu, tidak terlepas dari pengaruh tradisi Kristen dan filsafat
Yunani. Salah satu agen utama yang memperkenalkan Islam dengan tradisi Kristen
dan pemikiran Yunani pada masa itu adalah St. John (Santo Yahya) dari Damaskus
(Joannes Damascenus), yang dijuluki Chrysorrhoas (lidah emas), karena saat
tinggal di Antokia ia dikenal dengan nama Chrysostom.
Selain Mu’tazilah, sekte
keagamaan lain yang tumbuh berkembang pada masa ini adalah kelompok Khawarij.
Pada awalnya kelompok ini adalah pendukung setia Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib,
namun pada perkembangannya menjadi penentang Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib yang
paling berbahaya.
Ini terjadi karena mereka menolak
hasil perundingan antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah, mereka
melakukan pemberontakan dan melakukan kerusakan di muka bumi. Kelompok Khawarij
merupakan orang-orang yang keras kepala dan menginginkan manusia hanya ada
dalam dua kubu, yaitu kafir dan mukmin. Barang siapa yang sesuai dengan
pandangannya, dianggap sebagai orang mukmin. Sebaliknya, barang siapa yang
dianggap tidak sesuai dengan pandangannya, dianggap sebagai orang kafir.
Sekte lain yang muncul pada masa
Dinasti Umayyah adalah Murji’ah, yang mengusung doktrin irja’, yaitu
penangguhan hukuman terhadap orang beriman yang melakukan dosa, dan mereka
tetap dianggap muslim. Menurut Murji’ah, kenyataan bahwa Dinasti Umayyah adalah
orang Islam sudah cukup menjadi pembenaran bahwa mereka merupakan pemimpin
umat. Secara umum, ajaran pokok Murji’ah berkisar pada toleransi.Di
antara gagasan pemikiran Murji’ah yang terpenting adalah bahwa mukmin yang
melakukan maksiat akan disiksa oleh Allah di akhirat nanti, dan setelah disiksa
akan ditempatkan di surga.
Kelompok lainnya adalah Syi’ah.
Kegigihan kelompok Syi’ah dengan keyakinan utamanya terhadap Khalifah ‘Ali bin
Abi Thalib dan putra-putranya, yang diklaim sebagai imam sejati, masih
tetap menjadi karakteristik utama kelompok ini.
Kelompok ini lahir setelah
gagalnya perundingan damai antara Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib dengan Mu’awiyah
bin Abi Sufyan. Dari peristiwa ini pengikut setia Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib
menganut suatu aliran dalam Islam yang disebut dengan Syi’ah. Kelompok ini
meyakini Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib beserta para keturunannya adalah pemimpin
umat Islam setelah wafatnya Rasulullah SAW.
Sejak
tahun 661, mulailah di damaskus pemerintahan dinasti umayyah di bawah pimpinan
Mu’awiyya ibn abu sufyan(661-680), jauh sebelum itu, ia menjabat gubernur di
kota itu. Keluarga mansur yang slah satu keturunanya adalah johannes dari
damaskus, bapa gereja yunani yang dikemudian hari sangat terkenal itu agaknya
pada tahun 635 termasuk mereka yang membuka termasuk mereka yang membuka
pintu-pintu gerbang damaskus bagi kaum muslim, yaitu pasukan khalid ibn
al-walid. Sampai waktu yang lama johannes menjadi sekretaris khalifah itu,
tetapi kemudian mengasingkan diri dalam biara santo sabas di sebelah selatan
Betlehem, yang menyiratkan bahwa dia rupa-rupanya tidak lagi disukai.
Muawiyya
menikah dengan seorang perempuan yakobit manafosit yang berasal dari golongan
arab. Tidak jarang bahwa pada masa pemerintahan dinasti umayyah. Kaum yakobit
dan nestorian memegang posisi yang tinggi dalam istana diantara mereka, kecuali
johannes dari damaskus, terdapat penyair yakobit, akhtal (wafat 710), Yang
sangat terkenal dan yang berasal dari suku
arab kristen dari keluarga bani taghlib. Ia selalu dan untuk selamanya
menjadi andalan bagi khalifah yazid(680-683) dan Abd al-malik (685-705),
sekalipun ia menunjukkan keberadaanya sebagai orang kristen dengan sikap yang
sengaja menarik perhatian orang. Dalam penampilanya setiap hari ia terbiasa di
depan umum memakai sebuah tanda salib
besar terbuat dari emas.
Catatan
sejarah awal agama islam memiliki jiwa yang toleransi agamawi yang mengandung
keadilan. Penentuan kembali batas-batas masa lampau diantara propinsi-propinsi
asia, memberikan peluang kepada kaum yakobit untuk memperluas jaringan misioner
ke timur, yang pada masa itu berada di bawah monopoli penuh kaum nestorian.
kaum nestorian menikmati kebaikan para penguasa persia, dan untuk selanjutnya
hal ini mereka peroleh dari pengganti persia yaitu orang arab. karena pax
arabica itulah mereka dapat memperluas wilayahnya.
Pada
sekitar tahun 649, seorang uskup nestorian menulis “orang-orang arab ini tidak
berjuang melawan agama kristen. Bahkan mereka membela keyakinan kita,
menghormati para iman dan orang-orang kudus kita, serta banyak persembahan
kepada berbagai gereja dan biara kita, namun semuanya itu tidak berarti bahwa
(orang yahudi) dan orang keristen tidak dihadapkan pada berbagai peraturan
serta segala jenis gangguan. Toleransi tidak selalu sama maknanya dengan
kebebasan penuh. Peraturan yang mengacu pada umar ibn abd Al-khattab pengganti
(khalifah) kedua muhammad, tetapi yang
mungkin juga berasal dari orang yang senama dengan dia, khalifah dinasti umayyah
‘Umar ibn ‘abdu Al-aziz (atau umar II) (717-720), menyatakan bahwa orang-orang
kristen mengenakan busana yang berbeda, dilarang menunggang kuda, tidak
memanggul senjata dan tidak membangun gereja-gereja
Abu
maqar yang menentukan jatuhnya kekuasaan dinasti umayyah. Selama masa
pemerintahan raja umayyah terakhir, yang berkuasa di damaskus, yaitu marwan II
(744-750), para rahib dikejar dengan sangat keji. Penindasan itu, demikian
dituturkan, bahkan lebih begis kekejian terhadap martir ignatius yang kudus,
dimesir utara, khalifah marwan ditumpas, sementara para rahib di bawah dinasti
baru kaum abbassiyah untuk sementara waktu mengalami masa yang lebih baik.
Terlepas dari pengajaran itu (di bawah ‘Abd al-malik), serta
peraturan-peraturan yang sangat menjengkelkan di bawah umar II, orang-orang
kristen tetap menunjukkan keluhuran budinya terhadap kaum umayyah.
DAFTAR PUSTAKA
DR. Yatim,
Badri, M.A. sejarah peradaban islam dirasah islammiyah II. Jakarta: PT
Rajagrafindo persada. Mei 2010
Wessels, anton.
arab dan kristen. Jakarta: gunung mulia. 2004
Yunus, mahmud.
Sejarah pendidikan islam. Jakarta : PT Hidakarya agung. 1994
Tidak ada komentar:
Posting Komentar