PENDAHULUAN
Satu
hal yang membedakan kemajuan yang dicapai pada masa puncak kejayaan peradaban
Islam (The Golden Age of Islam)
dengan masa lainnya, adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, filsafat, dan
ilmu-ilmu lainnya.
Peradaban
Islam mengalami puncak kejayaan pada masa Dinasti Abbasiyah. Di buktikan dengan
kemajuan ilmu pengetahuan. Kemajuan ilmu pengetahuan di awali dengan
menerjemahkan naskah – naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam
bahasa Arab, pendirian pusat ilmu pengetahuan dan perpustakaan Bait al-
Hikmah, dan terbentuknya madzhab- madzhab ilmu pengetahuan dan keagamaan
sebagai buah dari kebebasan berfikir yang menjadi ciri khas pada masa Abbasiyah
lambat laun mengalami kemunduran sebab – sebab kemunduran Dinasti ini di latar
belakangi oleh faktor internal dan eksternal.
Prestasi luar biasa umat islam pada masa daulah umawiyah yang dapat
menaklukkan wiloayah-wilayah kerajaan rumawi dan persia, segera disusul dengan
prestasi yang lebih hebat lagi dalam penaklukan bidang ilmu pada abad
berikutnya. Penelaah ilmu yang dimulai sejak bani umayyah menjadi usaha besaran
pada masa bani abbas.
Kondisi pada masa bani abbas telah
memungkinkan untuk melaksanakan hal tersebut, mengingat bahasa arab telah
mencapai taraf kesempurnaan. Tata bahasanya telah mantap. Industri kertas
sebagaimana yang dibuat oleh Cina telah dapat diusahakan pada masa harun al
rasyid.
Dan gerakan membangun ilmu secara
besar-besaran dirintis oleh khalifah ja’far al mansur. Setelah ia mendirikan
kota bagdad (144 H/762 M) dan menjadikannya sebagai ibu kota negara. Ia
merangsang usaha pembukuan ilmu agama, seperti fiqh, tafsir, tauhid dan hadis
atau ilmu lain seperti ilmu bahsa dan ilmu sejarah. Akan tetapi yg lebih
mendapat perhatian ialah penerjemah buku ilmu yang berasal dari luar.
PEMBAHASAN
A.
Sistem Pengembangan Ilmu Pengetahuan
Secara umum pengembangan
ilmu pengetahuan dan filsafat dalam sejarah islam ditempuh dengan beberapa
tahap. Pertama tahap penerjemah dari bahasa asing ke dalam bahasa arab. Tahap
ini memang berlangsung lebih lama (750-850 M). Kegiatan penerjemah dilakukan
oleh kaum muslimin secara terbuka dan bekerja sama dengan penterjemah dari
agama yahudi dan nasrani. Pada fase penterjemah ini kitab-kitab ilmu
pengetahuan dan filsafat dari yunani, persia, romawi diterjemahkan ke dalam
bahasa arab, bahasa arab pada masa itu sudah menjadi bahasa komunikasi di
seluruh dunia islam berkat politik arabisasi bani umayyah.
Tahap kedua, karya-karya
ilmiah yang telah diterjemahkan, kemudian diberi syarah atau komentar oleh kaum
muslimin dan diberikan persesuaian dengan agama. Oleh sebab itu pada periode
tersebut lahir beberapa komentator muslim terhadap karya-karya ilmiah
orang-orang yunani dan persia seperti yang telah dilakukan filosof persia.
Hasil-hasil terjemahan kaum muslimin dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan
filsafat yang kemudian di koreksi. Teori-teori yang telah diberikan oleh para
ahli diberikan penjelasannya. Bahkan berkat kepekaan para pemikir islam, maka
hasil koreksi terhadap teori-teori yang telah ada terkadang dapat memancing
lahirnya dan terciptanya teori baru sebagai hasil renungan mereka. Pada masa
perkembangan inilah lahirnya karya-karya ulama yang sudah tersusun rapi dan
penemuan-penemuan baru sebagai hasil ketekunan kaum muslimin dalam bidang agama
(ulum al-naqliyah) adalah karya murni ummat islam. Karena itu perkembangan
ilmu-ilmu ini tidak melalui tahap-tahap seperti telah dijelaskan.
Secara terperinci gerakan
penyusunan kitab-kitab yang bernilai ilmiah berlangsung dalam tiga bentuk dan
tahap pula. Tahap awal berbentuk lembaran-lembaran yang sama sekali masih jauh
dari susunan yang tertib dan rapi. Tahap berikutnya, tahap pertengahan.
Karya-karya para ulama dalam bentuk susunan kitab yang masih sederhana. Dan
pada tahap ketiga, karya-karya ulama yang sudah tersusun rapi menurut
klasifikasi ilmu, tertib bab-bab dan fasal-fasal yang terperinci dsb. Dalam
tahapan inilah lahirnya karya-karya ulama dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan dan falsafat yang tersusun rapi menurut kaedah-kaedah ilmu
pengetahuan.
Langkah lain dari sistem
pengembangan ilmu pengetahuan ialah dengan jalan membentuk lembaga-lembaga
pendidikan. Penguasa bersama rakyatnya mendirikan lembaga pendidikan dan
penterjemahan dimana didalamnya terjadi proses belajar-mengajar umat islam
dengan sistem tradisional. Di lembaga pendidikan dan penterjemahan yang telah
ada itulah para pencinta ilmu berdatangan dari berbagai penjuru dunia dengan
keinginannya sendiri untuk belajar ataukah karena mendapat undangan khusus dari
penguasa islam. Berbagai macam lembaga pendidikan dan penterjemahan telah
didirikan oleh pemerintah pada masa perkembangan ilmu pengetahuan dan
peradaban.[1]
B.
Perkembangan
Ilmu pada Masa Abbasiyah
Seiring dengan perjalanan
kemajuan ilmu pengetahuan di Dunia Islam, maka dikenal berbagai cabang ilmu
pengetahuan yang berkembang, dan sesungguhnya adalah bagian dari dua bidang
ilmu yakni ilmu-ilmu naqli dan ‘aqli.
1.
Perkembangan
Ilmu Naqli
Ilmu naqli adalah ilmu
yang bersumber dari naqli (al qur’an dan hadis), yaitu ilmu yang berhubungan
dengan agama islam.[2]
a.
Ilmu
tafsir
Penafsiran al’quran
terbagi ke dalam dua cara: yakni tafsir bil al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi.
Tafsir bil al-ma’tsur adalah metode menafsirkan al qur’an dengan dalil al
qur’an, hadist nabi, pendapat para sahabat dan perkataan para tabiin yang
menjelaskan maksud Allah swt dari nash-nash al qur’an. Metode tafsir bi
al-ra’yi adalah penafsiran ayat-ayat al qur’an berdasarkan ijtihad penafsir dan
menjadikan akal pikiran sebagai pendekatan utama.
b.
Ilmu
hadis
Hadis pada periode
sebelumnya telah dikodifikasi, tetapi belum diadakan penyaringan, sehingga
antara hadis nabi dan bukan hadis nabi terjadi pencampuran. Berkenan dengan
keutamaan hadis sebagai sumber hukum yang kedua sesudah al qur’an, maka ulama
islam berusaha semaksimal mungkin untuk menyaring hadis-hadis rasulullah untuk
diterima sebagai sumber hukum. Pada zaman daulah abbasiyah, muncullah ahli-ahli
hadist ternama dengan kitab-kitab hadisnya seperti imam bukhari, imam muslim,
ibnu majah, abu daud, at-tarmidzi, an-nisa’i, al-hakim an-naisabury, abdul
fatah salim bin aiyub ar-razy, al-ajiry, al-baihaqy.
c.
Ilmu
kalam
Ilmu kalam lahir karena
ada dua faktor yang mendorongnya, yakni membela islam dengan
pemikiran-pemikiran filsafat dari serangan, orang-orang kristen dan yahudi
mempergunakan senjata filsafat tersebut dan untuk memecahkan
persoalan-persoalan agama dengan kemampuan akal pikiran, dan ilmu pengetahuan.
Di antara pelopor dan
ahli ilmu kalam terbesar, yaitu: Washil bin Atha’, Abu Huzail, al-juba’i,
al-Allaf, al-Nazzam, Abu Hasan al-Asy’ary, al-Baqillani, al-Juwaeni, dan
Hujjatul Islam Imam al- Ghazali.
d. Ilmu
hukum (fiqh)
Dalam
rangka memperluas ruang lingkup dan cakrawala pandangan hukum islam, maka para
pemikir muslim berusaha mengembangkan pemikiran tentang hukum islam. Para
fuqaha yang lahir pada masa abbasiyah dan seterusnya dapat digolongkan dalam
dua aliran, yaitu ahli hadist dan ahli ra’yi. Ahli hadist berdasarkan
pemikiran-pemikirannya pada hadis rasulullah. Mereka disebut sebagai aliran
madinah. Ahli ra’yi disebut juga dengan aliran kufah / irak. Mereka berdasarkan
pemikiran hukumnya pada kemampuan akal pikiran dan pengalamannya.
e.
Ilmu
tasawuf
Ilmu tasawuf yaitu ilmu
yang salah satu tumbuh dan matang dalam zaman daulah abbasiyah, ilmu tasawuf
adalah ilmu syariat yang baru diciptakannya. Inti ajarannya : tekun beribadah
dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan
perhiasan dunia dan bersunyi diri dalam beribadah.
Lahirnya ilmu tasawuf
memicu munculnya para ahli dan para ulama, di antara mereka yaitu :
Al-Qusyairy, Syahabuddin dan Imam Al-Ghazali.[3]
f.
Ilmu
bahasa
Dalam
masa abbasiyah, ilmu bahasa tumbuh dan berkembang dengan suburnya karena bahasa
arab yang semkain dewasa dan menjadi bahasa internasional. Yang dimaksuk dengan
ilmu bahasa adalah nahwu, sharaf ma’ani, bayan, bad’, qamus dan insya.
Kota
Basrah dan Kufah merupakan pusat pertumbuhan dan kegiatan ilmu lughah. Keduanya
berlomba-lomba dalam bidang itu sehingga terkenal sebutan aliran Basrah dan
aliran Kufah, masing-masing pendukungnya merasa bangga dengan alirannya. Aliran
basrah lebih banyak terpengaruh manthiq (logika) dibandingkan dengan aliran
kufah, sehingga mereka dinamakan ahli manthiq.
Di
antara ulama-ulama lughah yang termansyur pada maasa ini yaitu: Sibawaihi,
Mu’az al-Harra, Al-Kisai, Abu Usman al-maziny.[4]
2. Perkembangan Ilmu Aqli
Ilmu
aqli adalah ilmu yang didasarkan kepada pemikiran (rasio). Yang termasuk ilmu
ini antara lain kedokteran, kimia, filsafat, matematika, dan astronomi. Pada
masa daulah abbasiyah, khalifah-khalifahnya adalah pencinta ilmu. Mereka
mengadakan asimilasi ilmu-ilmu itu dengan agama islam. Usaha yang pertama
adalah mengadakan penerjemahan secara benar-benar.[5]
a. Filsafat
Setelah
kitab-kitab falsafah yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Arab di zaman
khalifah Harun ar-Rasyid dan khalifah al-Makmun, barulah kaum muslim sibuk
mempelajari ilmu falsafah, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan serta
perbaikan sesuai dengan ajaran islam, sehingga lahirlah para filosof islam yang
kemudian menjadi bintang dunia filsafat. Seperti:
·
Al-Kindi (801-873 M/
185-260 H) yang dikenal dengan nama filosof arab, karena satu-satunya keturunan
arab. Ia telah menghasilkan karya sebanyak 241 buah kitab dalam lapangan
filsafat, ilmu manthiq (logika), psikologi, astronomi, kedokteran, kimia,
matematika, politik, optic dan lain-lain. Salah satu kitabnya adalah Rasail
al-Kindi al-falsafiyyah.
·
Ar-Razy (864-926M/
250-313 H). Ia adalah dokter terbesar yang dilahirkan pada zaman puncak kejayaan
islam. Disebutkan bahwa karya tulisnya mencapai 232 buah buku, yang kebanyakan
dalam bidang kedokteran. Salah satu kitabnya adalah al-Thib al-Ruhani
(Kedokteran jiwa)
·
Al-Farabi (872-950 M/
259-339 H) jumlah tulisannya menurut informasi, kurang lebih 70 buah, yang
dapat dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok yang berkaitan dengan logika dan
kelompok yang berkaitan dengan berbagai cabang ilmu dan filsafat, seperti
fisika, matematika, metafisika, etika dan politik. Salah satu kitabnya adalah
kitab Ara Ahl al-Madinah al-Fadhilah, kitab Ihsan al-Ulum,dll
·
Ibnu Sina (980-1036 M/
370-428H), karya tulis yang dihasilkannya cukup banyak, kurang lebih 276 buah,
baik dalam bentuk kitab atau risalah. Karyanya yang paling dianggap penting
oleh para ahli adalah kitab al-syifa’, al-Qanun fi al-Thib, dll.
b. Al-Thib
(kedokteran)
Perkembangan
ilmu kedokteran sejalan dengan perkembangan ilmu filsafat. Mula-mula al-Mansyur
mengundang seorang dokter kepala dari Jundishapur kemudian berturut-turut
mengundang dokter-dokter ternama dari syiria, Mesir, Bizantium dan India untuk
berkumpul di Baghdad. Kemajuan ilmu kedokteran ditandai dengan munculnya
dokter-dokter yang berkualitas seperti : Ibnu Masiwaihi, Ibnul Sahal, Abu Bakar
ar-Razy, Ali bin Abbas, Ibnu Sina.
c. Farmasi
dan Kimia
Ilmu
farmasi dan kimia sebenarnya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan
dengan ilmu kedokteran terutama dalam hal pembuatan obat-obatan. Ilmu farmasi
dan kimia yang berusaha dipahami dan dikembangkan di Eropa pada masa
renaisance, sesungguhnya sudah diletakkan dasar-dasar yang kuat oleh
sarjana-sarjana islam. Ahli-ahli yang terkenal dalam kedua cabang ilmu tersebut
adalah : Ibnu Baithar, rasyiduddin, Jabir bin Hayyan, Abu Usman al-Jahiz
d. Ilmu
falak (astronomi)
Kaum
muslimin memiliki modal besar dalam mengembangkan ilmu falak. Mereka telah
berhasil menjadikan satu aliran-aliran bintang yang dianut masyarakat Yunani,
Hindu, persia, Kaldan dan arab Jahiliyah.
Ilmu
bintang yang memegang peranan penting dalam menentukan garis politik para
khalifah dan para amir, yang mendasarkan perhitungan kerjanya peredaran
bintang.
Di
antara para sarjana ilmu falak dan ilmu bintang yang termansyur adalah : Abu
Ma’syar al-falaky, Jabir Batany, Abu Hasan, al-Biruny, Al-Farghani, Al-Battani
e. Ilmu
hitung (matematika)
Ilmu
hitung (matematika) adalah satu cabang ilmu yang berkembang pesat dikalangan
umat islam, karena hukum-hukum syariat tentang zakat dan waris menuntut
perhitungan aritmatika.
Matematikawan
terkenal di dunia Islam maupun Eropa adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780-850M)
ia juga ahli geografi terkemuka. Ia adalah pelopor penggunaan angka nol dalam
ilmu hitung.metodenga untuk menghitung kemudian dikenal dengan algoritme.
Tulisannya antara lain : al-Kitab al Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wa
al-Muqabalah. Selain al-Khawarizmi di dunia islam dikenal ahli matematika
adalah al-Nasawi (wafat 1040) dan ahli matematika lainnya Abu al-Wafa
al-Khurasani (940-998).
f.
Ilmu tarikh (sejarah)
Masa
Abbasiyah banyak melahirkan pengarang dan ahli sejarah diantaranya Al Waqidy,
Al Ma’udy dan Al Thobari.
Ilmu
geografi terjadi karena hubungan kota Bagdad sebagai ibukota negara dengan kota-kota lain, baik hubungan
darat maupun laut, pesat sekali. Hal ini menimbulkan kegiatan rihlah ilmiah
yang kemudian ditulis dengan diterangkan secara jelas tempat-tempatnya serta
hal ihwalnya. Cerita yanng berasal dari kisah perjalanan itu akhirnya
berkembang menjadi ilmu sehingga menjurus kepada pembuatan peta.
g.
Ilmu
jughrafia (geografi)
Ilmuan-ilmuan bumi juga
sangat memperhatikan bumi dan segala isinya. Ilmu tentang bumi pada zaman
modern terbagi menjadi beberapa disiplin ilmu, geografi, geologi, geofisika dan
meteorologi. Sarjana-sarjana ilmu jughrafi, yang lahir pada zaman kemajuan
peradaban islam. Antara mereka yang terkenal yaitu: Hisyam al-Kalbi,
Al-Khawarizmi, Abu Ubaid al-Bakri, Al-Biruni,Ibnul Haik, Ibnu fadhlan,
Al-Muqaddasy, Abu ubaid al Bakry, Syarif Idrisy, Abu Hamid al-Ghamathy, Yaqut
al-Hamawy.[6]
KESIMPULAN
Secara umum pengembangan
ilmu pengetahuan dan filsafat dalam sejarah islam ditempuh dengan beberapa
tahap. Pertama tahap penerjemah dari bahasa asing ke dalam bahasa arab. Tahap
ini memang berlangsung lebih lama (750-850 M). Kegiatan penerjemah dilakukan
oleh kaum muslimin secara terbuka dan bekerja sama dengan penterjemah dari
agama yahudi dan nasrani. Pada fase penterjemah ini kitab-kitab ilmu
pengetahuan dan filsafat dari yunani, persia, romawi diterjemahkan ke dalam
bahasa arab, bahasa arab pada masa itu sudah menjadi bahasa komunikasi di
seluruh dunia islam berkat politik arabisasi bani umayyah.
Perkembangan ilmu pengetahuan pada
masa Abbasiyah terbagi kepada dua yaitu:
a.
Perkembangan Ilmu
naqli, antara lain:
Ø Ilmu
Tafsir
Ø Ilmu
Hadist
Ø Ilmu
Kalam
Ø Ilmu
Tasawuf
Ø Ilmu
Bahasa
b.
Perkembangan Ilmu Aqli,
antara lain :
Ø Filsafat
Ø Al-Thib
(Ilmu Kedokteran)
Ø Farmasi
dan Kimia
Ø Ilmu
Falak (astronomi)
Ø Ilmu
Hitung (matematika)
Ø Ilmu
Tarikh (Sejarah)
Ø Ilmu
Jughrafia (geografi).
DAFTAR
PUSTAKA
SJ, Fadil, Pasang Surut Peradaban
Islam dalam lintasan Sejarah,(Malang: UIN Malang press,2008)
Sunanto, Musyrifah, Sejarah islam klasik perkembangan ilmu
pengetahuan islam, (Jakarta: Prenada
media, 2003)
[1] Fadil SJ,
Pasang Surut Peradaban Islam dalam Lintasan sejarah, (Malang: UIN MALANG
PRESS,2008), hlm, 191-193
[2] Musyrifah Sunanto,
Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam, (Jakarta : Prenada
Media, 2003) hlm, 58.
[3] Fadil SJ, opcit, hlm, 161.
[4] Musyrifah Sunanto, opcit, hlm, 72
[5] ibid
[6] Fadil SJ, opcit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar