Dengan berakhirnya kekuasaan khalifah Ali ibn Abi Thalib, maka
lahirlah kekuasan bani Umayyah. Pada periode Ali dan Khalifah sebelumnya pola
kepemimpinan masih mengikuti keteladanan Nabi. Para khalifah dipilih melalui
proses musyawarah. Ketika mereka menghadapi kesulitan-kesulitan, maka mereka
mengambil kebijakan langsung melalui musyawarah dengan para pembesar yang
lainnya,
Hal ini berbeda dengan masa setelah khulafaur rasyidin atau masa
dinasti-dinasti yang berkembang sesudahnya, yang dimulai pada masa dinasti bani
Umayyah. Adapun bentuk pemerintahannya adalah berbentuk kerajaan, kekuasaan
bersifat feodal (penguasaan tanah/daerah/wilayah, atau turun memurun. Untuk
mempertahankan kekuasaan, khilafah berani bersikap otoriter, adanya unsure
kekerasan, diplomasi yang diiringi dengan tipu daya, serta hilangnya musyawarah
dalam pemilihan khilafah.
Umayyah berkuasa kurang lebih selama 91 tahun.
Reformasi cukup banya terjadi,
terkait pada bidang pengembangan dan kemajuan pendidikan Islam. Perkembangan
ilmu tidak hanya dalam bidang agama semata melainkan juga dalam aspek
teknologinya. Sementara sistem pendidikan masih sama ketika Rasul dan khulafaur
rasyidin, yaitu kuttab yang pelaksanaannya berpusat di masjid.
Walaupun Muawiyah mengubah sistem
pemerintahan dari musyawarah menjadi monarki, namun dinasti ini tetap memakai
gelar Khalifah. Namun ia memberikan interpretasi baru untuk mengagungkan
jabatan tersebut. Dia menyebutnya ‘Khalifah Allah” dalam pengertian “penguasa”
yang diangkat Allah dalam memimpin umat dengan mengaitkannya kepada al Qur’an
(2:30). Atas dasar ini dinasti menyatakan bahwa keputusan-keputusan Khalifah
berdasarkan atas kehendak Allah, siapa yang menentangnya adalah kafir58 Dengan
kata lain pemerintahan Dinasti Umayyah bercorak teokratis, yaitu penguasa yang
harus ditaati semata-mata karena iman. Seseorang selama menjadi mukmin tidak
boleh melawan khalifahnya, sekalipun ia beranggapan bahwa khalifah adalah
seseorang yang memusuhi agama Allah dan tindakan-tindakan khalifah tidak sesuai
dengan hukum-hukum syariat. Dengan demikian, meskipun pemimpin dinasti ini
menyatakan sebagai khalifah akan tetapi dalam prakteknya memimpin umat Islam
sama sekali berbeda dengan khalifah yang empat sebelumnya, setelah Rasulullah59 Jabatan
raja menjadi turun-temurun,60 dan
Daulah Islam berubah sifatnya menjadi Daulah yang bersifat kerajaan (monarkhi).Muawiyah tidak
mentaati isi perjanjian yang telah dilakukannya dengan Hasan ibn Ali ketika ia
naik tahta, yang menyebutkan bahwa persoalan pergantian pemimpin setelah
Muawiyah akan diserahkan kepada pemilihan umat Islam. Hal ini terjadi ketika
Muawiyah mewajibkan seluruh rakyatnya untuk menyatakan setia terhadap anaknya,
Yazid. Sejak saat itu suksesi kepemimpinan secara turun-temurun dimulai.
(PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH)
A. LATAR BELAKANG SOSIAL POLITIK PADA MASA BANI UMAYYAH
Setelah pada tanggal 20 Ramadhan 40 H Ali ditikam oleh Ibnu Muljam,
salah satu pengikut Khawarij, kedudukan Ali sebagai khalifah kemudian dijabat
oleh anaknya (Hasan bin Ali) selama beberapa bulan. Namun, karena Hasan
ternyata sangat lemah, sementara pengaruh Muawiyah semakin kuat, maka Hasan
membuat perjannjian damai. Perjanjian itu dapat mempersatukan umat Islam
kembali dalam suatu kepemimpinan politik, di bawah Muawiyah bin Abi Sufiyan. Di
sisi lain perjanjian itu menyebabkan Mu’awiyah menjadi penguasa absolut dalam
Islam. Tahun 41 H, tahun persatuan itu, dikenal dalam sejarah sebagai tahun
Jama’ah (‘am al jama’ah). Dengan demikian telah berakhirlah masa Khulafa’ur
Rasyidin dan dimulailah kekuasaan Bani Umayah dalam sejarah politik Islam.
Muawiyyah adalah pendiri dinasti Umayyah, ia merupakan putra dari
Abu Sufyan ibn Umayyah ibn Abdu Syam ibn Abd Manaf. Ibunya adalah Hidun binti
Utbah ibn Rabiah ibn Abd Syan ibn Abd Manaf. Sebagai keturunan Abd Manaf,
Muawiyah mempunyai hubungan kekerabatan dengan Nabi Muhammad. Ia masuk Islam
pada hari penaklukkan kota Mekkah (Fathul Mekkah) bersama penduduk Mekkah
lainnya. Ketika itu Muawiyyah berusia 23 tahun.
Mu’awiyah (memerintah661-680) adalah orang yang bertanggung jawab
atas perubahan sistem. sukses kepemimpinannya dari yang bersifat demokratis
dengan cara pemilihan kepada yang bersifat keturunan. Bani Umayyah berhasil
mengokohkan kekhilafahan di Damascus selama 90 tahun (661-750). Pemindahan
pusat pemerintahan dari Madinah ke Damascus menandai era baru.
Daulah Bani Umayyah mempunyai peranan penting dalam perkembangan
masyarakat di bidang politik, ekonomi dan sosial. hal ini didukung oleh
pengalaman politik Mu`awiyah sebagai Bapak pendiri daulah tersebut yang telah
mampu mengendalikan situasi dan menepis berbagai anggapan miring tentang
pemerintahannya. M.Muawiyah bin Abu sufyan adalah seorang politisi handal di
mana pengalaman politiknya sebagai gubernur Syam pada masa khalifah Utsman bin
Affan cukup mengantar dirinya mampu mengambil alih kekuasaan dari genggaman
keluarga Ali bin Abi Thalib.
Pada masa dinasti Umayyah politik telah mengalami kamajuan dan
perubahan, sehingga lebih teratur dibandingkan dengan masa sebelumnya, terutama
dalam hal Khilafah (kepemimpinan), dibentuknya Al-Kitabah (Sekretariat Negara),
Al-Hijabah (Ajudan), Organisasi Keuangan, Organisasi Keahakiman dan Organisasi
Tata Usaha Negara.
B. PERKEMBANGAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA BANI UMAYYAH
Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi,.
Kajian ilmu yang ada pada periode ini berpusat di Damaskus, Kufah, Mekkah,
Madinah, Mesir, Cordova dan beberapa kota lainnya, seperti: Basrah dan Kuffah
(Irak), Damsyik dan Palestina (Syam), Fistat (Mesir). Diantara ilmu-ilmu yang
dikembangkannya, yaitu: kedokteran, filsafat, astronomi atau perbintangan, ilmu
pasti, sastra, seni baik itu seni bangunan, seni rupa, amuoun seni suara.
Pada masa khalifah-khalifah Rasyidin dan Umayyah sebenarnya telah
ada tingkat pengajaran, hampir sama seperti masa sekarang. Tingkat pertama
ialah Kuttab, tempat anak-anak belajar menulis dan membaca, menghafal Al-Qur’an
serta belajar pokok-pokok Agama Islam. Setelah tamat Al-Qur’an mereka
meneruskan pelajaran ke masjid. Pelajaran di masjid itu terdiri dari tingkat
menengah dan tingkat tinggi. Pada tingkat menengah gurunya belumlah ulama
besar, sedangkan pada tingkat tingginya gurunya ulama yang dalam ilmunya dan
masyhur ke’aliman dan kesalehannya.
Umumnya pelajaran diberikan guru kepada murid-murid seorang demi
seorang. Baik di Kuttab atau di Masjidpada tingkat menengah. Pada tingkat
tinggi pelajaran diberikan oleh guru dalam satu halaqah yang dihadiri oleh
pelajar bersama-sama.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada Kuttab pada mula-mulanya adalah dalam
keadaan sederhana, yaitu:
a. Belajar membaca dan menulis
b. Membaca Al-Qur’an dan menghafalnya
c. Belajar pokok-pokok agama Islam, seperti cara wudhu, shalat,
puasa dan sebagainya.
Ilmu-ilmu yang diajarkan pada tingkat menengah dan tinggi terdiri
dari:
a. Al-Qur’an dan tafsirannya.
b. Hadis dan mengumpulkannya.
c. Fiqh (tasri’).
Pemerintah dinasti Umayyah menaruh perhatian dalam bidang
pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan
penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para
seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya
serta mampu melakukan kaderisasi ilmu. Di antara ilmu pengetahuan yang
berkembang pada masa ini adalah:
1. Ilmu agama, seperti: Al-Qur’an, Haist, dan Fiqh. Proses
pembukuan Hadist terjadi pada masa Khalifah Umar ibn Abdul Aziz sejak saat
itulah hadis mengalami perkembangan pesat.
2. Ilmu sejarah dan geografi, yaitu segala ilmu yang membahas
tentang perjalanan hidup, kisah, dan riwayat. Ubaid ibn Syariyah Al Jurhumi
berhasil menulis berbagai peristiwa sejarah.
3. Ilmu pengetahuan bidang bahasa, yaitu segla ilmu yang
mempelajari bahasa, nahu, saraf, dan lain-lain.
4. Budang filsafat, yaitu segala ilmu yang pada umumnya berasal
dari bangsa asing, seperti ilmu mantik, kimia, astronomi, ilmu hitung dan ilmu
yang berhubungan dengan itu, serta ilmu kedokteran.
Ada dinemika tersendiri yang menjadi karakteristik pendidikan Islam
pada waktu itu, yakni dibukanya wacana kalam (baca: disiplin teologi) yang berkembang
ditengah-tengah masyarakat. Sebagaimana dipahami dari konstitusi sejarah Bani
Umayyah yang bersamaan dengan kelahirannya hadir pula tentang orang yang
berbuat dosa besar, wacana kalam tidak dapat dihindari dari perbincangan
kesehariannya, meskipun wacana ini dilatarbelakangi oleh faktor-faktor politis.
Perbincangan ini kemudian telah melahirkan sejumlah kelompok yang memiliki
paradigmas berpikir secara mandiri.
Pola pendidikan pada periode Bani Umayyah telah berkembang jika
dilihat dari aspek pengajarannya, walaupun sistemnya masih sama seperti pada
masa Nabi dan khulafaur rasyidin. Pada masa ini peradaban Islam sudah bersifat
internasional yang meliputi tiga benua, yaitu sebagian Eropa, sebagian Afrika
dan sebagian besar Asia yang kesemuanya itu dipersatukan dengan bahasa Arab
sebagai bahasa resmi Negara.
C. MADRASAH/UNIVERSITAS PADA MASA BANI UMAYYAH
Perluasan negara Islam bukanlah perluasan dengan merobohkan dan
menghancurkan, bahkan perluasan dengan teratur diikuti oleh ulama-ulama dan
guru-guru agama yang turut bersama-sama tentara Islam. Pusat pendidikan telah
tersebar di kota-kota besar sebagai berikut:Di kota Mekkah dan Madinah (HIjaz).
Di kota Basrah dan Kufah (Irak). Di kota Damsyik dan Palestina (Syam). Di kota
Fistat (Mesir).
Madrasah-madrasah yang ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai
berikut:
1) Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah
penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al Qur’an
dan mana yang halal dan haram dalam Islam. Pada masa khalifah Abdul Malik bin
Marwan Abdullah bin Abbas pergi ke Mekkah, lalu mengajar disana di Masjidil
Haram. Ia mengajarkan tafsir, fiqh dan sastra. Abdullah bin Abbaslah
pembangunan madrasah Mekkah, yang termasyur seluruh negeri Islam.
2) Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih
dalam ilmunya, karena di sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti
disana banyak terdapat ulama-ulama terkemuka.
3) Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah
Abu Musa Al-asy’ari dan Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah ahli fiqih
dan ahli hadist, serta ahli Al Qur’an. Sedangkan Abas bin Malik termasyhur
dalam ilmu hadis. Al-Hasan Basry sebagai ahli fiqh, juga ahli pidato dan kisah,
ahli fikir dan ahli tasawuf. Ia bukan saja mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada
pelajar-pelajar, bahkan juga mengajar orang banyak dengan mengadakan
kisah-kisah di masjid Basrah.
4) Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah melahirkan enam
orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah, Al-Haris bin
Qais dan ‘Amr bin Syurahbil. Mereka itulah yang menggantikan Abdullah bin
Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah
bin Mas’ud menjadi guru di Kufah. Ulama Kufah, bukan saja belajar kepada Abdullah
bin Mas’ud. Bahkan mereka pergi ke Madinah.
5) Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi
sebagian negara Islam dan penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri
Syam menjadi perhatian para Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk
Syam, yaitu Abdurrahman Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan
Abu-Hanafiah. Mazhabnya tersebar di Syam sampai ke Magrib dan Andalusia. Tetapi
kemudian mazhabnya itu lenyap, karena besar pengaruh mazhab Syafi’I dan Maliki.
6) Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara Islam ia
menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah di Mesir
ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama). Ia ahli hadis
dengan arti kata yang sebenarnya. Karena ia bukan saja menghafal hadis-hadis
yang didengarnya dari Nabi S.A.W., melainkan juga dituliskannya dalam buku
catatan, sehingga ia tidak lupa atau khilaf meriwayatkan hadis-hadis itu kepada
murid-muridnya. Oleh karena itu banyak sahabat dan tabi’in meriwayatkan
hadis-hadis dari padanya.
Karena pelajar-pelajar tidak mencukupkan belajar pada seorang ulama
di negeri tempat tinggalnya, melainkan mereka melawat ke kota yang lain untuk
melanjutkan ilmunya. Pelajar Mesir melawat ke Madinah, pelajar Madinah melawat
ke Kufah, pelajar Kufah melawat Syam, pelajar Syam melawat kian kemari dan
begitulah seterusnya. Dengan demikian dunia ilmu pengetahuan tersebar seluruh
kota-kota di Negara Islam.
D. TOKOH-TOKOH PENDIDIKAN PADA MASA BANI UMAYYAH
Tokoh-tokoh pendidikan pada masa Bani Umayyah terdiri dari
ulama-ulama yang menguasai bidangnya masing-masing seperti dalam bidang tafsir,
hadist, dan Fiqh. Selain para ulama juga ada ahli bahasa/sastra.
Ø Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu
Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin Al-Ajda’, Qatadah.
Pada masa tabi’in tafsir Al-Qur’an bertambah luas dengan memasukkan
Israiliyat dan Nasraniyat, karena banyak orang-orang Yahudi dan Nasrani memeluk
agama Islam. Di antara mereka yang termasyhur: Ka’bul Ahbar, Wahab bin
Munabbih, Abdullah bin Salam, Ibnu Juraij
Ø Ulama-ulama Hadist: Kitab bacaan satu-satunya ialah al-Qur’an.
Sedangkan hadis-hadis belumlah dibukukan. Hadis-hadis hanya diriwayatkan dari
mulut ke mulut. Dari mulut guru ke mulut muridnya, yaitu dari hafalan uru
diberikannya kepada murid, sehingga menjdi hafalan murid pula dan begitulah
seterusnya. Setengah sahabat dan pelajar-pelajar ada yang mencatat
hadist-hadist itu dalam buku catatannya, tetapi belumlah berupa buku menurut
istillah kita sekarang.
Ulama-ulama sahabat yang banyak meriwayatkan hadis-hadis ialah: Abu
Hurairah (5374 hadist), ‘Aisyah (2210 hadist), Abdullah bin Umar (± 2210
hadist), Abdullah bin Abbas (± 1500 hadist), Jabir bin Abdullah (±1500 hadist),
Anas bin Malik (±2210 hadist)
Ø Ulama-ulama ahli Fiqh: Ulama-ulama tabi’in Fiqih pada masa bani
Umayyah diantaranya adalah:, Syuriah bin Al-Harits, ‘alqamah bin Qais, Masuruq
Al-Ajda’,Al-Aswad bin Yazid
Kemudian diikuti oleh murid-murid mereka, yaitu: Ibrahim An-Nakh’l
(wafat tahun 95 H) dan ‘Amir bin Syurahbil As Sya’by (wafat tahun 104 H).
sesudah itu digantikan oleh Hammad bin Abu Sulaiman (wafat tahubn 120 H), guru
dari Abu Hanafiah.
Ø Ahli bahasa/sastra: Seorang ahli bahasa seperti Sibawaih yang
karya tulisnya Al-Kitab, menjadi pegangan dalam soal berbahasa arab. Sejalan
dengan itu, perhatian pada syair Arab jahiliahpun muncul kembali sehingga
bidang sastra arab mengalami kemajuan. Di zaman ini muncul penyair-penyair
seperti Umar bin Abu Rabiah (w.719), Jamil al-uzri (w.701), Qys bin Mulawwah
(w.699) yang dikenal dengan nama Laila Majnun, Al-Farazdaq (w.732), Jarir
(w.792), dan Al akhtal (w.710). sebegitu jauh kelihatannya kemajuan yang
dicapai Bani Umayyah terpusat pada bidang ekspansi wilayah, bahasa dan sastra
arab, serta pembangunan fisik. Sesungguhnya dimasa ini gerakan-gerakan ilmiah
telah berkembang pula, seperti dalam bidang keagamaan, sejarah dan filsafat.
Dalam bidang yang pertama umpamanya dijumpai ulama-ulama seperti Hasan
al-Basri, Ibnu Syihab Az-Zuhri, dan Wasil bin Ata. Pusat kegiatan ilmiah ini
adalah Kufah dan Basrah di Irak. Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah (w. 794/709)
adalah seorang orator dan penyair yang berpikir tajam. Ia adalah orang pertama
yang menerjemahkan buku-buku tentang astronomi, kedokteran, dan kimia.
DAFTAR PUSTAKA
Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam. Ensiklopedia Islam 5. Jakarta: PT
ichtiar Buru Van Hoeve. 1999
Nizar, Samsul. Sejarah Pendidikan Islam (Menelusuri jejak Sejarah
Pendidikan Era Rasulullah Sampai Indonesia). Jakarta: Kencana Prenada Media
Group. 2008
Susanto, Musyarifah. Sejarah Islam Klasik Perkembangan Ilmu
Pengetahuan Islam. Jakarta: Kencana. 2004
Suwendi. Sejarah dan Pemikiran Pendidikan Islam. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada. 2004
Yunus, Mahmud. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT Hidakarya Agung. 1994
Tidak ada komentar:
Posting Komentar